Keputusan Zaki
Selama kita masih bernafas kita tidak akan pernah bisa lepas dari yang namanya membuat keputusan. Setiap saat setiap detik kita selalu harus menentukan keputusan. Keputusan yang harus diambil setelah disodorkan sekian banyak pilihan. Mulai dari sekedar memilih baju mana yang akan dipakai hari ini, memilih menu makan siang, sampai memilih hal yang menentukan jalan hidup kita di hari-hari selanjutnya.
Baru-baru ini Zaki, adik laki-lakiku, memutuskan untuk jadi full time student. Kelihatannya memang hal yang wajar dan sudah seharusnya semua mahasiswa memilih untuk serius kuliah. Tapi lain ceritanya kalau dia harus melepaskan sesuatu yang sudah diakrabinya sejak SMA. Band-nya. Bass-nya. Musiknya. Memang ini bukan keputusan permanen. Setelah ia tamat kuliah, ia akan kembali lagi ke semua yang terpaksa ditinggalkannya sementara itu.
Aku yakin tidak ada seorang pun yang menyangka ia akan mengambil keputusan itu, termasuk aku. Coba saja bayangkan. Pada saat band yang sudah diperjuangkan dan dipertahankan bertahun-tahun bisa dipastikan masuk dapur rekaman, dia memilih untuk keluar dari band dan serius kuliah. Produsernya bahkan menyebutnya 'epes meer', takut sebelum memulai. Nugra, lead guitarist-nya, memilih untuk tidak peduli dan tidak mau dipusingkan dengan keputusannya. Luki, gitaris yang satunya, meracau nggak karuan. Vokalisnya, Wikas, mungkin keliatannya menerima dengan lapang dada tapi dari apa yang diceritakan Zaki padaku, aku rasa perlakuan Wikas pada adikku akan berubah. Satu-satunya yang bisa mengerti dan mau menerima keputusan itu dengan tulus hanya Igo, si drummer.
Tak peduli respon seperti apapun yang muncul tetap ada satuhal yang aku rasa harus diketahui mereka semua. Yang tersakiti oleh keputusan itu bukan hanya mereka tapi juga Zaki.
"....rasanya pengen nangis tapi ga tau lah. Rasanya sakit, lebih sakit dari waktu putus sama Marsya."
Itu yang dia katakan besoknya setelah ia mengutarakan keputusannya pada produser. Dengan nama Marsya disebut sebagai pembanding rasa sakitnya, aku amat sangat mengerti seperti apa sakit yang ia rasakan. Marsya adalah satu-satunya momen dimana ia belajar dan tahu apa itu cinta yang tulus. Ternyata keluar dari band lebih menyakitkan dari patah hati. Aku bisa merasakannya karena dulu aku sempat menjadi manager band-nya sebelum berganti nama dan mengubah formasi. Aku tahu betul perjuangan yang telah ia lalui demi mendapatkan satu kesempatan recording. Aku tahu rasanya meninggalkan sesuatu yang dicintai sungguh-sungguh sepenuh hati, meskipun selama menjalaninya dirasakan seperti ada beban besar yang selalu menggantung di setiap sudut benaknya. Aku tahu rasanya. Aku kenal perihnya.
Sebenarnya ada setitik rasa bersalah yang aku rasakan atas keputusannya itu. Tiga hari sebelum ia berbicara pada produsernya, aku dan Zaki begadang dua hari berturut-turut. Kami membicarakan tentang hidup, hidup kami masing-masing. Zaki mengatakan ia sedang bingung dengan apa yang dijalaninya sekarang. Semuanya menggantung. Tidak ada yang jelas. Band dan kuliah kedua-duanya membuat badan dan mentalnya terkuras habis. Ia tidak bisa konsentrasi penuh, baik di kelas maupun di studio. Pulang ke rumah selalu dengan otak, badan dan mental yang kelelahan. Aku rasa pasti berat rasanya membagi isi kepala dengan dua hal yang sama-sama memberi beban tanggung jawab yang besar. Di band ia bertanggung jawab untuk memenuhi ekspektasi teman-temannya juga produser serta orang-orang industri. Di kuliah ia bertanggung jawab lulus pada ibu dan ayah. Sebuah balas budi dan pemenuhan harapan semua orangtua.
Aku memberinya masukan. Dulu ia memilih untuk tetap nge-band dan juga tidak mau melepaskan kuliah. Maka sekarang pilihan itu harus dijalani sebaik mungkin. Tapi satu yang harus diingat. Pilihan yang tepat tidak akan membuat kita merasa gamang, seperti apapun sulitnya tidak akan ada istilah 'tidak nyaman'. Jika kita merasa tidak nyaman berati ada yang salah dengan pilihan kita. Di saat itu kita harus berani untuk melihat dan me-review pilihan kita. Memetakan apa yang menjadi penyebab ketidak nyamanan dan menentukan solusinya. Kurang lebih seperti itulah masukanku di hari pertama kami begadang sampai subuh.
Sepertinya Zaki memahami apa yang aku utarakan lalu mencoba saranku itu. Keesokannya kami begadang lagi. Kali ini dia mengatakan, "Mungkin masalahnya ada di Zaki sendiri. Tidak cukup tahu kemampuan diri sendiri. Bukan cuma urusan musik tapi juga kemampuan Zaki untuk menampung dua beban berat yang harus dijalani disaat yang sama."
Aku bangga ia tidak menyalahkan orang lain atas ketidak nyamanannya. Padahal aku sendiri sering menganggap masalah itu muncul karena personil yang lain tidak bisa bersikap dewasa menghadapi setiap masalah yang harus dilalui band ini.
Pada saat itu ia mengutarakan pertimbangannya untuk mengundurkan diri dari band. Aku berusaha memberinya masukan yang objektif. Aku katakan bahwa keputusan itu adalah keputusan yang vital. Tidak hanya akan berpengaruh besar pada dirinya tapi juga pada orang lain, terutama teman-teman satu band-nya. Jadi harus dipikirkan baik-baik. Ia harus mampu melihat semua sisi secara keseluruhan. Aku juga mengatakan padanya bahwa ia harus mengingat kembali tujuan awalnya bergabung dengan band. Apakah ia ingin maju sebagai musisi atau maju sebagai bassist band-nya. Bagiku ini adalah pertanyaan penting yang harus ia jawab sendiri sebagai bahan pertimbangan keputusannya. Itulah yang aku utarakan di kali kedua kami begadang.
Pada awalnya aku kira ia akan menunda niatannya itu sampai bulan november. Katanya pada bulan itu akan diputuskan apakah band-nya layak masuk dapur rekaman atau tidak. Tapi nyatanya ia memilih tidak menunda dan dengan bulat memilih untuk keluar dari band. Jujur aku sedikit kecewa. Ibuku pun terlihat agak kecewa. Tapi setelah aku tahu dengan jelas alasannya aku yakin keputusan yang diambilnya adalah keputusan terbaik untuk semua orang.
Alasannya cukup membuatku kagum dengan pemikirannya yang panjang ke depan. "Kalau Zaki berhasil di musik semua orang tentu akan kagum tapi tetap dibalik kekaguman mereka selalu ada ucapan bagus sih bisa terkenal jadi artis tapi apa bagusnya kalo dapet status drop out kuliah. Lain kalo Zaki lulus kuliah, meskipun ga kerja kantoran tapi Zaki bisa lebih tenang memulai bermusik dari awal lagi," itulah alasannya.
Ketika aku tanyakan,"Gimana sama anak-anak nantinya?"
"Mereka ga akan apa-apa, sekarang udah ada produser yang bisa bantuin mereka. Dan kalau mereka jadi sukses, Zaki tetep bangga sama mereka dan bersyukur ternyata keputusan Zaki baik untuk semua."
Itulah Zaki, adikku. Aku bangga ia mampu mengambil keputusan besar dan siap menjalaninya.
Good luck, Zaki.... Hidup harus dihadapi bukan hanya dipikirkan....!

No comments:
Post a Comment